What’s the meaning of life? Can some of you explain it to me? Yah. Gue nggak tau apa arti hidup yang sebenarnya, karena menurut gue Life is a sadness. Seenggaknya sampe gue ketemu dengan dia, He’s my prince that teach me about everything.
Gue Dara, Dara Silfana. Wajah pas-pasan, penampilan biasa, tak punya banyak teman, and I think I have no something special except my brain. Terlahir dari keluarga yang kaya, dengan ayah merupakan salah seorang pejabat tinggi di negeri ini, dan ibu yang punya butik dengan cabang dimana-mana tak lantas bisa membuat gue bahagia, malah menambah beban dan membuat gue tersiksa. Tiap pulang sekolah, rumah pasti sepi. Mama sibuk dengan butiknya, Papa pasti masih bergelut dengan laptop ataupun rapat plenonya. Ketemu juga jarang , bahkan nggak menutup kemungkinan kalo keadaan seperti ini masih bertahan selama beberapa tahun kedepan, gue jamin untuk bisa lupa dengan sendirinya dengan wajah mereka . Gimana nggak? Gue belum bangun, mereka udah pergi ngantor. Gue udah lelap tidur lagi malemnya, mereka baru pulang. Enak juga kalo mereka nyiapin waktu ketika weekend untuk ngumpul bareng keluarga, tapi apa kenyataannya? Mereka tetap sibuk seperti biasa. Atau menurut gue nih, mereka sebenarnya lupa kalo udah punya anak dua, Dara dan Bryan. There’s reasonable, isn’t it?
Oh ya, selain orang tua yang nggak melihat keberadaan gue ini, Gue juga punya kakak yang sangat nggak pantas buat dijadikan seorang panutan. Why? Gue nggak lebai yah. Ayo kenalan sama kakak gue. Namanya Bryan, hobi ngerokok, nge-track, ngegang, dan satu lagi yang paling parah : maen cewek. Akibat salah pergaulan tuh, mentang-mentang nggak pernah kekurangan materi dari mama papa, seenaknya aja dia mau bergaul dengan siapa aja tanpa pilih mana yang baik mana yang nggak . Tapi kasihan juga sih, mungkin dia sama depresinya sama gue yang nggak dapet kasih sayang dari mama papa, makanya melampiaskan ke pergaulan. Emang anak yang malang kita kak.. ;(
Beralih dari keluarga, sekarang gue bakal cerita panjang lebar tentang sahabat serta kehidupan gue di sekolah. Yah, dibandingkan dengan rumah, jujur gue jauh lebih nyaman dan ngerasa diperhitungkan ketika berada di sekolah. Disini gue selalu dipuji dan dikenal teman-teman sekolah serta guru. Ga percaya? Tanya aja ama salah satu dari mereka. Siapa sih yang nggak kenal dengan Dara Silfana yang sejak tahun pertama hingga sekarang nggak pernah lepas dari peringkat satu umum? Haha :D Bukannya sombong nih. Tapi menurut gue emang cuma itu satu-satunya cara agar gue diperhatikan dan nggak disepelekan keberadaannya. Maklumlah, gue bukan termasuk tipe yang pintar bergaul ataupun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Padahal gue pengen punya banyak teman dan mungkin cuma ini caranya agar mereka bisa mendekatkan diri ke gue, mungkin dengan nanya tentang pelajaran, sharing PR ataupun tugas.
Oh iya, gue punya satu-satunya sahabat dari SD sampe sekarang, namanya Jimmy. He’s like an angel. Disaat gue ngerasa kesepian, dia selalu nemenin. Disaat gue butuh pertolongan seseorang, dia datang dan ngebantu sebisa yang ia mampu. Disaat gue pengen cerita, dia bersedia jadi tong sampah yang siap mendengar keluh kesah gue tentang apapun itu. Disaat gue pengen nangis sekeras-kerasnya, he always gives his shoulder to cry on for me. And I know, He’s everything for me. Hanya dia harta yang gue miliki, gue gamau kehilangan dia. Namun, walaupun dia sahabat gue dari kecil, tapi tak dapat dipungkiri, there’s a something sweet strange feeling in my heart flows slowly. And I think, everyone call it love..
Tapi, kesengsaraan masih mendominasi hidup gue. Ternyata hidup di keluarga yang menyebalkan belum cukup ngebuat gue menderita. Suatu hari, nyokap bokap kena musibah. Mama telah ditipu milyaran rupiah oleh partner kerjanya yang juga sahabat dekatnya. Sayangnya, Mama nggak bisa bertahan dengan cobaan kecil Tuhan itu, nggak kayak gue yang bisa survive walaupun dikasih cobaan yang sangat berat, yaitu mereka. -Maafin Gue Tuhan, tapi Gue udah nggak tahan lagi ama tingkah mereka berdua-. Cobaan tak hanya berhenti sampai disitu, beberapa hari setelah mama ditipu, gue dikagetkan lagi dengan sekilas berita yang mengabarkan bahwa si Papa telah dicurigai sebagai dalang korupsi terkait kebijakan pemerintah dalam pembangunan rumah penggantian akibat gempa dan tsunami di Pulau Mentawai. Astaga.. Gue kaget! Bisa-bisanya bokap gue nelen duit rakyat yang udah jelas-jelas diperuntukkan bagi rakyat miskin. Gue ikhlas lah si Papa ditangkap atau dipenjara sekalian, memang udah ngelanggar hukum dan pantas untuk dihukum. Biar jadi pembelajaran juga bagi beliau supaya lebih memahami hakekat beliau sebagai wakil rakyat, yang justru memakan uang rakyat sendiri.
Bertubi-tubi masalah di keluarga gue, beberapa hari setelah musibah yang menimpa papa dan mama. Datang kabar baru lagi, ternyata telah menyebarluas video mesum papa dengan wanita cantik simpanannya. Buseeeet.. Gile bener si papa.. Makin kacaulah keadaan keluarga kami. Mama pun makin depresi dan akhirnya ngedrop,jatuh sakit yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Aku yang selalu berusaha menenangkan mama yang tiba-tiba bisa menangis histeris ketika ia teringat papa ataupun butiknya, kadang merasa lelah dengan semua ini. Tapi mau gimana lagi, inilah hidup dan mereka berdua keluargaku, orangtuaku. Si Bryan bukannya prihatin dan ikut nolongin gue ngehadapin cobaan beruntun ini, tapi malah lari gatau kemana. Udah hampir seminggu dia nggak pulang ke rumah semenjak musibah papa dan mama. Alhasil, gue yang harus berjuang sendirian, bertahan dari kondisi keluarga yang kacau luar biasa, baik secara fisik maupun psikis. Keluarga deket atau pun keluarga jauh pun nggak ada yang dateng, karena emang mama papa gue ‘ajaib’, nggak pernah mau ngumpul bareng keluarga lain. Boro-boro mau ngumpul, anak-anaknya aja nggak dikenalin sedikitpun ama keluarga yang lain. Sombong banget yah, mentang-mentang udah mapan materi, ngerasa nggak butuh bergaul dengan keluarga lagi. Ehm, gue tau, mungkin cobaan-cobaan ini juga salah satu balasan Tuhan karena kesombongan mereka. Tapi kenapa gue yang harus jadi korban?
Di tengah permasalahan yang hampir membunuh ini, gue masih punya seseorang yang bisa nenangin dan ngebantu gue. Jimmy! He’s the only one that could help me from this problems. Oh iya, hari ini adalah tahun pembelajaran baru gue di SMA. Akhirnya lepas juga dari seragam putih biru dan dipandang lebih dewasa juga sebagai murid SMA. Untung aja gue berada di lingkungan baru yang orang-orangnya belum kenal dan nggak tau kalo gue adalah seorang anak pejabat koruptor dan keluarga yang sedang kacau dan terancam bangkrut, seenggaknya itu yang ada dipikiran gue. Oops, apa yang gue pikirin salah. Yang bisa gue simpulkan adalah ternyata penyebaran gossip di SMA, 3 bahkan 5 kali lebih cepat dibanding saat di sekolah gue dulu. Astaga, gue baru masuk sekolah aja udah jadi trend-topic. Setiap mata ngeliat gue dengan sinisnya dan mengeluarkan kata-kata gunjingannya. “Idih, itu ya anak koruptor mesum di tv kemarin? Ngapain dia masuk SMA kita?” “Malu-maluin nama SMA kita aja sih” “Jangan-jangan dia ngewarisin keturunan orangtuanya yang koruptor lagi ya. Haha” dan berbagai ejek-ejekan yang mereka hanturkan ke gue yang sangat mengiris hati. Walaupun mereka berbisik, namun bagi gue perkataan mereka sangat jelas seakan mereka berteriak keras di depan telinga gue. Oh, God. Gue bisa bertahan selama ini. Tapi kenapa orang yang belum gue kenal sekalipun udah men-cap buruk diri gue? Gimana gue mau berteman, kalau mereka udah secara tak langsung memusuhi gue?
Di balik keramaian orang yang masih sibuk berbicara kotor mengenai gue, terlihat dari kejauhan sosok yang sangat terang benderang, Jimmy. Tapi kenapa dia nggak menghampiri dan melindungi gue seperti biasa? Kenapa ia hanya tersenyum sinis dari kejauhan sana? Apa dia nggak melihat gue? “Jimmy!” teriak gue sambil melambaikan tangan agar ia tahu keberadaan gue. Gue yakin dia udah ngeliat gue, tapi kenapa ia pergi menjauh dan mengacuhkan gue? Hm. Mungkin dia lagi badmood atau memang nggak liat. “Sepulang sekolah gue harus nemuin dia”pikir hati gue.
Gue masuk kelas X-A yang katanya kelas anak-anak unggulan yang nilainya di atas rata-rata. Ternyata gue masih dianggap pintar di sini. Syukurlah, paling nggak gue masih ada alasan dan cara untuk mulai berteman dengan yang lain. Lagipula, anak-anak kelas unggulan juga lebih mementingkan pelajaran, tanpa harus sibuk mengurusi gossip murahan di luar sana, termasuk tentang gue. Jadi paling nggak, gue bisa bernafas lega dan nggak tergunjing lagi ketika berada di kelas. Tapi ada satu hal yang gue sesalkan, nggak sekelas dengan Jimmy. Dia masuk ke kelas X-F, lima kelas dari kelas gue. Bakal jarang liat gue nih. Argh.. Jimm,gue pengen sekelas sama lo..
Kelas udah bubar, gue nggak langsung pulang. Seperti biasa yang gue lakuin ketika SMP dulu, nungguin Jimmy di gerbang sekolah untuk pulang bareng. Biasanya kami nggak langsung pulang sih, tapi jalan ke taman, cerita-cerita atau pun makan ke our fav café kami. Hihi. Senyum-senyum sendiri nih kalo udah ngebayangin si Jimmy. Kayaknya gue bener-bener feel something different deh ama dia. Hihi Dari kejauhan terlihat rombongan anak baru kelas X sama kayak gue, bisa terlihat dari seragamnya yang masih ‘bau baru’ dan kaku. Dan ternyata diantara mereka ada sosok yang nggak asing bagi gue, Jimmy. “Jim..” seru gue. “Lo kenal dia, Jimm?” tanya salah seorang diantara teman-teman Jimmy. Ia nggak menjawab, tapi langsung pergi bersama rombongannya dan ngacuhin gue sendirian di depan gerbang. Jimmy kenapa? Lo tau apa yang gue rasain? Sedih.
Gue masih penasaran tentang perubahan sikap Jimmy. Gue coba sms dan telepon dia, mungkin dia lagi ada masalah , sama kayak gue, hingga akhirnya mood nya buruk dan bertingkah lain ke gue. Tapi sama sekali nggak ada respon. Akhirnya gue putusin untuk nemuin dia di rumahnya. Setelah di rumahnya, gue disambut oleh ibunya Jimmy, tante Lily yang sangat baik hati. Beliau prihatin ngeliat keluarga gue yang sedang berada di ambang kehancuran dan minta gue agar bisa sabar ngejalanin semuanya. Jimmy sangat beruntung mempunyai ibu yang sangat baik hati seperti tante Lily, andai saja itu aku.. Walaupun lama menunggu, akhirnya Jimmy keluar nemuin gue. Namun ada yang berbeda kali ini, wajahnya tak secerah terakhir kali gue bertemu di rumahnya, kali ini wajahnya masih sinis sama seperti ketika ia menatap gue tajam di sekolah.
”Jimm, lo kenapa?” gue memulai pembicaraan. “Gue? Gue nggak kenapa-kenapa. Lo tuh yang kenapa? Ngapain dateng kesini nemuin gue?”jawabnya ketus dengan sorot mata yang tajam. “Kok lo jadi kasar gini sih ngomongnya? Lo ada masalah?cerita Jimm. Tapi jangan gini sama gue.” “Emang dari dulu gue gini, kasar. Lo aja yang baru sadar.Gue nggak ada masalah, baik-baik aja. I’m fine”seru Jimmy dengan nada yang masih tinggi. “Gue butuh lo Jimm.” “Lo tau kan gimana masalah yang nimpa diri gue?Gue butuh lo yang selalu meredakan panas dan ketakutan hati gue untuk menghadapi ini semua.Tapi kenapa lo berubah ketika gue sangat perlu bantuan lo?”lanjut gue dengan lirih, sambil menahan tangis. “Gue siapa bagi lo?Gue cuma temen SD sama SMP lo. Gue nggak bisa bantu lo, karena lo juga nggak penting bagi gue. Lo bukan siapa-siapa gue.” Jgeeer. Bagaikan petir di siang bolong yang datang menyambar gue bertubi-tubi. “Jimm, lo bilang apa? Gue nggak penting buat lo? Lo bercanda kan? Gue sahabat lo Jimm. Lo lupa? Hm. Gue tau, apa ini karena keadaan gue sekarang? Lo malu punya sahabat kayak gue sebagai anak dari seorang koruptor mesum dan ibunya yang terancam bangkrut, gitu jimm?”sahut gue juga dengan suara yang tinggi akibat marah yang tertahan. “Itu lo tahu. Jadi, mulai sekarang jangan pernah deket-deket gue. Anggap kita nggak pernah kenal dan nggak pernah ada hubungan apa-apa. Ngerti?”teriak Jimmy sambil berdiri dan ngebanting pintu, ninggalin gue sendiri di depan rumahnya.
Hujan turun sore hari itu.. Seakan langitpun tahu betapa sedihnya hati gue. Gue berjalan pulang di tengah hujan yang turun derasnya.. Dan tanpa gue sadari, ada seseorang yang mengawasi gue dari kejauhan.. Melihat gue yang berjalan gontai diliputi kesedihan mendalam dan tragis ini.
Hari-hari berikutnya terlihat dengan jelas perubahan sikap Jimmy. Ia tak pernah lagi senyum atau bahkan melihat wajah gue. Gue heran, begitu bencinya kah ia?Hanya karena alasan keadaan keluarga gue, kami harus melupakan persahabatan ini? Yang lebih ngebuat gue sakit dan menderita adalah saat ini gue tahu, gue bukan cuma harus merelakan persahabatan, tapi juga perasaan cinta gue ke dia. Tak terasa, air mata yang tak mampu lagi terbendung mengalir di pipi gue. Sampai-sampai gue lupa kalo masih berada di kelas yang ramai. Tapi seenggaknya gue nggak perlu khawatir, karena nggak ada yang memperhatikan gue. Mereka hanya sibuk berkutat dengan pelajaran, tugas, dan laporan. Nggak ada satupun yang mengetahui keberadaan gue disini, sepi, gue sepi Jimm nggak ada lo.
Ketika gue membuka mata setelah lelah menangis, gue sadar ada sebuah sapu tangan biru muda di depan gue. Seorang cowok berkulit putih berkacamata menyodorkan saputangan ke gue. “Nih, lap dulu airmatanya. Sebentar lagi pelajaran dimulai”serunya lembut ke gue. Gue nggak mampu berkata lagi, hanya terdiam dan nggak percaya ternyata ada yang merhatiin keberadaan gue.
Setelah jam pelajaran selesai, gue menghampiri cowok pemberi sapu tangan itu. “Hei”katanya sambil tersenyum ketika melihat gue yang datang mendekatinya. “Hm. Ma..Makasih ya, tapi saputangannya kotor karena airmata gue. Gue cuci dulu, besok baru gue balikin lagi ke lo.”seru gue malu-malu. “Iya. Nggak apa-apa kok. Oh iya, lo belum tahu gue kan? gue Ito.” “Gue Dara”jawab gue. “Haha. Tau kok. Kita kan satu SMP, lagian kelas dua dulu kita juga sekelas. Masa lo nggak inget Dar?”tanyanya sambil mengangkat alis. “Oh ya? Gue nggak tau. Gue juga nggak punya ingatan bagus tentang nama dan wajah orang. Gue..”jawab gue gugup. “Sst. Iya nggak apa apa Dara, gue ngerti kok. Yaudah, gue mau ke kantor guru dulu nih, ada yang mesti gue urus. Lo jangan sedih lagi..Oke?”ujar Ito lembut. Gue hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat dia yang berlari terburu-buru ke arah kantor guru. Ito, gue ngerasa ada sesuatu berbeda di dirinya, tapi gue nggak tahu itu apa.
“Yap, semangat! Masalah nggak akan selesai jika kita hanya meratapinya. Ayo, Dara bangkit! Kalahkan masalah itu. Usir mereka pergi, yeah!”teriak gue kearah langit sebelum berangkat sekolah. Sambil dengerin ipod, gue berjalan santai ke sekolah. Lumayan lah, buat penghematan, daripada naik taksi, mending duitnya buat makan ntar. Sesaat kemudian, melesat kencang yang hampir nyerempet gue, sebuah motor gede warna putih yang dilihat dari plat nya,gue tahu itu motor Jimmy. Dia ngebonceng seorang cewek cantik berambut panjang, mungkin pacar barunya kali, tapi bodo amat. “Sialan si Jimmy, mau ngebunuh gue dia?hm.Dia udah bener-bener lupa kali ya sama gue.Okelah, gue juga bisa ngelupain lo Jimm. Gue nggak butuh orang kayak lo, yang ikut ngejauh saat seluruh dunia ikut ngejauhi gue. Lo bagaikan pasir Jimm di hidup gue. Tiup aja, langsung ilang.”seru gue dengan suara lumayan keras. Udah kayak orang gila aja gue, ngomong sendiri. Tapi dia itu, bener-bener. Hiks. Gue hampir nangis lagi nih. “Don’t be sad again , pretty girl.” terdengar suara lembut yang pernah gue denger sebelumnya. “Ito. Lo disini? Sejak kapan?”gue kaget ketika melihat di belakang gue karena nggak nyangka bakal ada Ito, jalan bareng gue ke sekolah, “Dari tadi kok. Lo aja yang nggak sadar. Haha” Wah, Ito tertawa. Manis banget. ”Kok lo tumben jalan kaki kesekolah Dar?Nggak capek?” “Hm. Capek juga sih sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi To, keadaan yang memaksa demikian.Hehe”ujar gue dengan tawa yang dipaksakan. Ito hanya terdiam tak dapat berkata-kata, dan tak terasa kamipun telah sampai di sekolah.
Kini gue punya temen baru, Ito. Dia pinter, supel, ramah, baik, dan tampan. Banyak cewek yang menyukainya, tapi hanya gue yang beruntung yang bisa dekat dengannya. “Dar, nyokap lo masih dirawat di rumah sakit?”tanyanya. “Nggak To, nyokap gue udah di rumah ko. Tapi, walaupun gitu, beliau mesti harus dirawat intensif, dijaga pola makannya. Gue juga mesti cepat-cepat pulang kerumah,buat ngejagain nyokap.” “Jadi kalo lo sekolah gini, siapa yang ngejagain nyokap lo?” “Pembantu gue To, kasian nyokap, kalo nggak sekolah aja, pasti gue udah 24 jam ngejagain beliau.”curhat gue. “Lo cewek yang kuat ya Dar.Gue salut ama lo. Eh, pulang sekolah, boleh gue ngejenguk nyokap lo?” “Lo mau ngejenguk nyokap gue To?”tanya gue nggak percaya. “Iya.Kenapa Dar?Nggak boleh ya?” “Eh, bukan gitu. Boleh aja kok.Boleh banget malahan. Gue ngerasa nggak percaya aja To,kalo ada temen yang mau ngejenguk nyokap.” “Yaudah, ntar tunggu di rumah ya. Gue dateng sekitar jam 2.” Ujar Ito sambil memamerkan senyum manisnya. “Lo tau rumah gue, emang?” “Tau. Apa sih yang gue nggak tau tentang lo Dar?Haha” Duh, senyumnya, tawanya, Ito berhasil ngebuat gue meleleh.
Akhirnya jam 2 Ito dateng ngejenguk nyokap. Ia makin tampan saat menggunakan pakaian casual yang baru pertama kali gue lihat. Nyokap dan Ito juga sempet ngobrol-ngobrol sebentar, dan gue rasa mama suka dengan cara Ito. Syukurlah..
Ito memang berbeda dengan laki-laki yang gue kenal, termasuk Jimmy. Ito pintar, memandang tiap hal dengan cara yang kritis, namun tetap menggunakan logika, jarang menggunakan emosinya. Dia selalu ngasih support ke gue agar tetap survive ditengah kesulitan yang gue hadapi. Dia juga mulai mengajarkan ke gue cara berorganisasi, mengenalkan gue dengan orang-orang baru,dan membuat gue lebih mudah dalam bergaul dan berkomunikasi. Dalam akademik pun kami selalu belajar bersama walaupun pada akhirnya bersaing mendapatkan nilai yang lebih tinggi, namun bagi kami itu adalah sebuah motivasi dan persaingan yang sehat. Aku pun mulai memandang hidup ini dari sisi yang berbeda, sisi yang berlawanan dari yang sebelumnya. Kurasa banyak hal positif dari setiap masalah yang tidak kusadari. Dan aku tahu, aku menemukan cinta baruku. CInta yang kali ini takkan salah lagi.
Saat pembagian raport pun tiba, akhirnya seperti biasa aku mendapatkan juara umum lagi, dan ternyata juara umum duanya adalah Ito, dengan selisih total nilai 0,5 denganku. “Tunggu ya Dar, kali ini lo boleh menang dari gue, tapi lain kali gue yang bakal ngalahin lo. Haha “canda Ito “Coba aja kalo bisa. Wek”balasku.
Malam hari nya Ito mengajakku makan malam, dan tanpa disangka ia menyatakan perasaannya kepadaku. “Dar, maaf kalo secepat ini. Tapi gue takut kalo gue tunda lagi, lo keburu direbut orang Dar, dan gue bakal menyesal seumur hidup. Dar, gue udah mengagumi lo dari dulu, tapi baru bisa sekarang gue ngeyakinin diri buat ngomong ke lo kalo gue suka sama lo. Gue cinta sama lo Dar. Lo mau ya jadi pacar gue?”tanya Ito dengan penuh harap. “Ehm. Lo kok tiba-tiba gini sih To? Gue kan jadi bingung mesti gimana..” sahut gue yang benar-benar dalam posisi gugup. “Lo nggak perlu gimana-gimana Dar, yang perlu lo lakuin cuma jawab pertanyaan gue.Please” “Gue..gue..”
Nggak perlu diragukan lagi lah ya, gue yakin lo semua tau apa yang bakal gue jawab. Haha :D And the last, I found the other side of my life, called happiness.
By: Mega Silviliyana